Investasi Masa Depan: Pertanian Berkelanjutan

Oleh: Indra Purnama, PhD
Petani dan Founder Indonesia Berkelanjutan

Saham Pilihan Terbaik Millenial untuk Memulai Investasi (Okezone.com, 18 Juni 2020); Mau Investasi Saat Pandemi, Pilih Reksa Dana Atau Obligasi? (Kompas, 16 Juni 2020); Investasi Emas Jadi Pilihan Terbaik di Masa Pandemi (Kompas, 28 Mei 2020), setidaknya begitu headline media cetak dan online tanah air yang membahas tentang investasi yang menjanjikan untuk masa depan. Jika membaca hasil riset dari Bursa Efek Indonesia (BEI) rentang 2006 hingga 2017, yang paling menguntungkan memang ketiga jenis investasi tersebut, yaitu berturut-turut: emas; reksa dana/obligasi; dan saham, nilai kembalinya jauh melebihi tabungan biasa bahkan deposito sekalipun. Hal ini menjadi poin penting, sebab inflasi terus terjadi, dimana harga 10 tahun yang lalu tidak sama dengan harga saat ini. Maka tak heran ketiga serangkai produk investasi tersebut seringkali menjadi topik menarik untuk dibahas sebagai investasi masa depan. Tapi apa benar? Apa sudah tidak ada lagi jenis investasi lain yang lebih menjanjikan?

Beras sehat sebagai salah satu produk pertanian berkelanjutan . (Dok: Pribadi)

Ternyata kalau ditelisik lebih lanjut, masih ada investasi lain yang tak hanya lebih menjanjikan dan menguntungkan saja, tetapi juga menebar manfaat untuk masa depan, karena keuntungannya selain dinikmati sang investor beserta keluarga, investasi ini juga akan memberikan manfaat besar langsung ke banyak orang dan juga makhluk hidup lainnya di muka bumi. Saya pun pernah menyampaikannya saat sesi wawancara dengan Bang Andy F. Noya dalam acara Kick Andy pada 2013 silam. Apa itu? Investasi ke alam. Itu adalah jawabannya. Salah satunya lewat pertanian berkelanjutan. Tapi sayang, banyak orang belum sadar. Hal ini lah yang membuat saya gelisah hingga memutuskan menjadi petani, di saat pemuda di usia saya memilih profesi lain yang kelihatannya lebih menarik.

Pandemi Bentuk Teguran Bumi
Kehadiran virus Corona jenis baru (SARS-CoV-2), yang mengakibatkan Covid-19, telah merubah banyak hal dalam tatanan kehidupan masyarakat dunia, dimana kondisi saat ini tak lagi sama seperti kondisi sebelum Covid-19 menjadi pandemi. Kalau bolehlah kita melakukan instropeksi, bisa jadi pandemi ini adalah bentuk teguran bumi kepada kita sebagai manusia. Kita seringkali lupa bahwa yang ada di bumi tidak hanya manusia saja, tetapi juga semua yang ada di dalamnya, termasuk berbagai satwa dan tumbuhan. Maka sudah semestinya kita selalu memerhatikan lingkungan dalam setiap aktivitas yang dilakukan, serta berhenti melakukan eksploitasi berlebihan terhadap alam dan isinya tanpa pertimbangan matang terhadap keberlanjutan. Namun, fakta menunjukkan bahwa aktivitas-aktivitas manusia selama ini seringkali mengabaikan lingkungan.

Tentunya harapan terbesar saat ini adalah agar kita segera sadar akan teguran bumi di tengah pandemi Covid-19 ini. Cara yang bisa kita lakukan adalah kembali mencintai bumi beserta isinya dengan memerhatikan aspek keberlanjutan di setiap aktivitas yang akan dilakukan. Pun juga adanya pandemi Covid-19 mengajarkan kita bahwa ternyata harta yang melimpah, tak menjadi jaminan bahwa kita masih bisa makan dan minum seperti biasanya. Jika pandemi Covid-19 ini terus berlanjut di tengah minimnya produksi pertanian dan kelautan, maka dapat dipastikan harta itu tak akan berguna. Impor tak lagi bisa dilakukan, sebab negara lain tentu juga butuh bahan pokok tersebut untuk memenuhi kebutuhan warganya. Sehingga kembali mencintai alam melalui aktivitas berkelanjutan adalah jalan yang tak lagi dapat ditawar, terlebih untuk mencegah rentetan dampak dari pandemi Covid-19.

Bertani: Investasi ke Alam agar Masa Depan Tak Kelam
Sudah saatnya kita melakukan pembangunan yang berorientasikan keberlanjutan, termasuk salah satu sektor penting saat ini, pertanian. Sudah saatnya kita berhenti melakukan alih fungsi lahan dan tidak lagi bertani secara serampangan dengan menggunakan pupuk dan pestisida sintesis berlebihan hingga merusak lingkungan. Sudah saatnya sarjana pertanian kembali ke khittah-nya, menjadi bagian dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan.  

Selama manusia hidup, maka produk pertanian akan terus diperlukan, tidak berpengaruh dengan kondisi apapun, meski pandemi sekalipun, karena semua orang butuh makan. Maka tak mengherankan ketika kita membaca hasil survei Snapcart (PT. Snapcart Digital Indonesia) terkait perilaku belanja masyarakat Indonesia di saat pandemi yang dirilis pertengahan April 2020 yang lalu. Hasil survei menyebutkan hampir 80% produk yang paling dicari dan dibutuhkan oleh konsumen adalah bahan makanan. Lihat? Ini investasi yang menjanjikan, bukan?

Tapi tunggu dulu, sebelum mengambil keputusan bertani, kita sekarang melihat data dari Kementerian Pertanian (Kementan) pada akhir April 2020 lalu, yang menyebutkan terdapat 7 provinsi terancam defisit beras menghadapi pandemi. Ditambah lagi menyimak berbagai pernyataan para ahli terkait kondisi pandemi Covid-19 yang kemungkinan akan berlangsung lama serta munculnya pandemi-pandemi baru yang bisa saja terjadi. Hal ini tentu mengkhawatirkan, karena ketersediaan beras di daerah sentra produksi pertanian tidak hanya akan menipis tapi bisa saja habis. Sehingga jika benar terjadi, tentu akan berimbas pada banyak hal, termasuk meningkatnya angka kriminalitas, karena sudah kehilangan pekerjaan, bahan makanan pun tak pula ada.

Dua data di atas tentunya menjadi data terkini terkait supply dan demand yang tampaknya sulit bertemu, padahal potensi pasarnya sangat besar dan luas atau dalam istilah lainnya menjanjikan dan menguntungkan. Salah satu faktor terbesar yang mengakibatkan sulitnya memenuhi permintaan pasar akan produk pertanian adalah rantai pasok yang terlalu panjang, sehingga seringkali hanya pedagang atau pengepul besar saja yang diuntungkan.  

Menghadapi situasi pertanian kita saat ini tentunya kehadiran pertanian berkelanjutan akan menjadi solusi yang sangat diperlukan, sebab dalam aktivitasnya, pertanian berkelanjutan menjalankan tiga prinsip, yakni lingkungan yang sehat, profitabilitas, serta keadilan sosial dan ekonomi. Ketiga prinsip inilah yang kemudian akan memastikan para investor di bidang pertanian mendapatkan keuntungan yang maksimal dalam waktu singkat secara terus menerus, karena semua pelaku harus menerapkan prinsip tersebut jika ingin berkelanjutan. Tidak sampai di sana, kondisi alam pun semakin baik dan terjaga, sebab prinsip lingkungan yang sehat harus selalu dijalankan. Selain itu, kita tidak akan lagi melihat petani yang pensiun bertani atau melarang anaknya menjadi petani, karena petani bisa menjadi lebih sejahtera.

Tidakkah menarik investasi ke alam melalui pertanian berkelanjutan ini? Sudah terlibat dalam menjaga alam dan menyejahterakan petani, pun juga dapat keuntungan besar yang terus mengalir. Ingatlah bahwa permintaan produk pertanian tidak akan pernah berhenti selama masih ada nafas manusia di muka bumi. Berdasarkan pengalaman kami, tidak sampai 1 tahun modal sudah bisa kembali. Selain itu, kita juga bisa memastikan bahwa tidak akan lagi terjadinya defisit bahan pangan, yang ujung-ujungnya ikut mendukung program kemandirian negara.  

Sudah saatnya segera berinvestasi melalui pertanian berkelanjutan sekarang. Jangan lagi bilang tunggu nanti. Apalagi bagi Anda yang punya tanah luas. Jangan biarkan tanah itu menjadi semak belukar yang hanya menunggu dijual ketika harga jualnya naik berkali lipat. Lebih baik dimanfaatkan menjadi tanah pertanian berkelanjutan, agar masa depan Anda, kita, serta semua yang ada di bumi tak kelam. ***