Bisakah Uang Membeli Masa Depan?

oleh: Indra Purnama, PhD
Petani dan Founder Indonesia Berkelanjutan.

Semakin ke sini hidup semakin mudah. Teknologi terkini digadang gadang mampu memenuhi tuntutan keperluan yang terus bertambah. Bayangkan saja hanya bermodalkan sentuhan di layar smartphone (dan tentunya paket data dan saldo aplikasi), makanan datang terhidang. Pun begitu dengan bepergian, bisa pergi dan pulang tanpa perlu antre bis apalagi angkot yang sebagian besar sudah berumur. Intinya hidup menjadi mudah. Jadi tak salah jika ada anggapan, kalau uang ada, maka semua bisa dibeli. Apa pun itu. Iya apa pun itu. Hidup menjadi nyaman tanpa beban.

Pertanian berkelanjutan di Jepang sebagai upaya menyiapkan masa depan (Dok: Pribadi)

Tapi tahukah? Anggapan itu tak serta merta 100% benar. Lihatlah berapa banyak orang-orang saat ini terkesan tidak peduli sesama, tidak peduli dengan mereka yang tak berpunya. Bahkan naas-nya lagi banyak yang sudah terbuai dengan kenyamanan semu ini. Tidakkah kita ingat bagaimana orang dulu hidup cari makan? Semua bergantung dari alam, mulai dari laut, sawah, sungai, hutan, gunung, dan sebagainya. Nah kalau sekarang? Tetap dari sana juga, tapi luas dan produktivitasnya sudah mulai berkurang. Ya itu tadi, karena nafsu ingin menjadi sebuah “kota” yang ditandai dengan berdirinya gedung-gedung tinggi dan megah, lahan-lahan produktif itu pun dipaksa dialihfungsikan. Makanya jangan heran, belakangan ini banyak produk-produk yang diimpor. Pun garam juga diimpor, padahal Indonesia termasuk salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Miris bukan?

Tapi tidak bagi mereka yang klaim punya banyak uang. Tidak masalah produk impor sekalipun, yang penting usahanya, bisnisnya, kejayaannya, proyeknya, garapannya, masih jalan dan terus menghasilkan uang. Hal-hal sepele seperti alih fungsi lahan hutan atau lahan produktif tidak menjadi masalah besar, impor dianggap lumrah dan wajar bagi suatu negara. Kita serta merta mungkin ikut larut dengan keadaan seperti itu juga, karena memang tidak bersentuhan langsung dan jarang atau sudah lama tidak ada yang mengingatkan tentang kepedulian terhadap hal ini.

Di sisi lain, kita melihat para petani atau nelayan yang masih semangat melakoni pekerjaannya tak lagi banyak jumlahnya, generasi mudanya pun sudah ogah-ogahan melanjutkan estafet mulia itu. Lulusan pertanian, peternakan, atau perikanan tak lagi bekerja di sawah, di kawasan peternakan, atau di tambak-tambak ikan. Sehingga ketika para ahli dan kemudian ditambah lahan yang tidak ada lagi, maka sudah cukup membuat alasan untuk terus melakukan impor. Alasannya masuk akal, karena permintaaan produk-produk itu semakin banyak seiring meningkatnya jumlah penduduk, sementara pasokan dalam negeri tak ada lagi. Lalu sampai kapan ini terus terjadi?

Saya bukan peramal, juga buka ahli nujum. Tapi sebagai petani dan punya sedikit pengetahuan di bidang lingkungan, kondisi itu akan terus terjadi jika kita tak segera sadarkan diri. Lama kelamaan krisis pangan itu benar-benar akan terjadi, dimana saat kita ada uang, barang impor pun tidak ada lagi ada, tersebab hal yang sama pun ternyata berlaku di negara impor, karena pola pikir yang sudah terlanjur menular itu: dengan uang semua bisa dibeli. Wabah Covid-19 bisa jadi adalah bentuk teguran awal agar kita segera sadar dan peduli terhadap lingkungan serta para petani yang tetap terus melakukan produksi di tengah pandemi. Bayangkan kalau para petani atau lahan produktif untuk bertani tak ada lagi. Oleh karenanya, jangan sampai ada lagi teguran-teguran lain yang dapat membuat kita menyesal di kemudian hari.  

Petani Ikutan Tak Peduli

Tahukah, bahwa ketidakpedulian kita terhadap para petani ini telah ikut menulari mereka. Maksudnya? Banyak para petani ataupun nelayan ikutan menjadi tidak peduli terhadap apa yang mereka lakukan dalam menghasilkan produk-produk andalan mereka itu. Kita akan banyak menemukan petani yang menggunakan pupuk atau pestisida secara berlebihan. Tujuannya jelas agar produksi pertanian meningkat dan akan menghasilkan uang yang lebih banyak. Tapi tahukah kalau beras yang dihasilkan tersebut akan memiliki tingkat residu pestisida tinggi yang sangat berbahaya bagi tubuh kita? Petani pasti tahu tentang hal ini, karena sering diberitahu oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), tapi ya mereka tidak bisa dipaksa, itu lahan mereka. Lalu bagaimana dengan kita yang tinggal di kota? Yang makan produk-produk mereka?

Jangan heran kalau produk-produk hasil alam Indonesia jarang lolos ketika diekspor. Residu pestisidanya sangat tinggi. Contoh lain adalah pemakaian formalin yang masih marak disalahgunakan untuk mengawetkan produk perikanan. Makanya tidak perlu kaget jika melihat banyak macam penyakit muncul belakangan ini, karena zat-zat berbahaya telah masuk dan terakumulasi dalam tubuh kita. Pada saat sudah sakit parah, apakah uang bisa membeli sehat?

Banyak para pelaku penting di pertanian, peternakan, ataupun perikanan tidak lagi peduli dengan dampak yang dihasilkan dari kekeliruan yang mereka lakukan, karena hanya berorientasikan untung belaka. Mungkin kita akan bertanya, kira-kira dari mana semua ini bermula? Bisa jadi ini diawali dari tidak lagi pedulinya kita terhadap para petani. Keberadaan petani seringkali dianggap tidak pernah ada. Kita terlalu menghamba kepada supermarket-supermarket besar ataupun toko serba ada, dimana peran petani, peternak, nelayan, tidak terlihat secara kasatmata. Parahnya lagi ini sudah berlangsung dalam waktu yang lama.    

Saatnya Sadar & Peduli

Mungkin ada yang berpikir tidak perlu khawatir jika pun nanti lahan tidak ada, toh teknologi semakin canggih, bisa bertanam di lahan terbatas bahkan di dalam gedung sekalipun. Ya silakan saja jika masih mencari pembelaan yang lain atas pola pikir selama ini. Kita bisa lihat bagaimana hal ini akan berproses. Tapi sederhana saja, jika bertanam di tanah yang cukup mudah dilakukan saja banyak yang tidak peduli, bagaimana jika nanti sudah menggunakan teknologi, yang sudah rumit, biayanya selangit.

Harapan besar saya ingin sampaikan kepada para petani (termasuk kepada diri saya pribadi), sang pelaku utama rantai pasok bahan pokok, agar jangan lantas menyerah gegara hanya segelintir orang yang tak peduli, karena kalau mau membuka mata, sesungguhnya masih ada yang peduli. Toh, kalaupun berperilaku masa bodoh terhadap produk pertanian yang dihasilkan dari penggunaan pestisida atau pupuk berlebihan, yang pertama akan kena dampaknya adalah tetap para petani, yang kontak langsung dengan pestisida dan pupuk tersebut.

Selain itu, juga berharap kepada banyak orang untuk selalu ingat dan peduli terhadap para pejuang pangan di lapangan. Bagi yang memiliki kewenangan untuk menyejahterakan mereka dengan kebijakan, tolong lakukan itu. Para pejuang ini tidak hanya butuh bantuan materi saja, tapi juga perlu pendampingan yang berkesinambungan, terutama terkait pemasaran. Atau jika yang dipunyai hanya ilmu, bagikan ke mereka. Jika pun tidak bisa berbuat banyak, cukup beli saja produk mereka atau hargai produk-produk tersebut dan ajarkan tentang kepedulian ini kepada anak-anak di rumah. Katakan juga kepada generasi muda  bahwa kalau kondisi seperti saat ini dibiarkan terus, maka akan ada masa di mana uang tidak lagi bisa membeli semua, termasuk masa depan. ***

*Pernah dimuat dalam rubrik Opini Riau Pos, 27 Juli 2019 dengan judul Ketika Hidup Semakin Mudah