Komitmen Petani Bungraya Hasilkan Beras Bebas Residu

Hingga detik ini beras masih menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Sehingga tak heran jika banyak sekali program pemerintah yang ditujukan untuk menjaga pasokan beras agar terciptanya ketahanan pangan (food security) di semua lapisan masyarakat. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terkait dengan kesehatan, kini keamanan pangan (food safety) pun menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam membeli produk makanan. Kesadaran ini muncul tentunya setelah banyaknya muncul berbagai kasus manipulasi ataupun penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam pangan yang dikonsumsi sehari-hari. Bahan-bahan berhaya ini nantinya akan terakumulasi dan mengendap di bagian tubuh yang kemudian pada akhirnya akan memicu berbagai penyakit kronis yang mematikan, seperti kanker dan tumor.

Diskusi Pusat Studi Indonesia Berkelanjutan – Research Center for Sustainable Indonesia (ReCSI) dengan Masyarakat Bungaraya (Dok: Pribadi)

Dalam pada itu, Pusat Studi Indonesia Berkelanjutan – Research Center for Sustainable Indonesia (ReCSI), yang merupakan semi Non Profit Organization (NPO) dari PT. Bangun Indonesia Berkelanjutan, yang arahnya lebih banyak untuk kegiatan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan, berupaya mengajak para petani di Kecamatan Bungaraya. Kab Siak untuk melakukan penanaman ramah lingkungan dengan mengikuti Good Agricultural Practices (GAP) sehingga diharapkan akan menghasilkan beras bebas residu.

Bertempat di kediaman rumah Izan Kasmizan (25/10), Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Mukti Desa Buantan Lestari Kec. Bungaraya, telah dilaksanakan komitmen bersama ketua-ketua kelompok tani di bawah koordinasi Gapoktan Karya Mukti untuk melakukan penanaman padi sesuai GAP yang dilakukan berangsur-angsur menuju 100% organik. Indra Purnama, PhD yang merupakan Research Director – ReCSI mengungkapkan rasa senangnya atas tanggapan yang diberikan oleh para ketua kelompok tani tersebut. “Saya merasa bersyukur karena ternyata keresahan kami selama ini terkait keamanan produk beras yang dihasilkan petani juga ikut diresahkan oleh mereka. Dengan adanya pertemuan komitmen ini, Insya Allah mimpi menghasilkan produk pertanian bebas residu itu segera terwujud,” ungkap Indra yang merupakan doktor di bidang kimia lulusan Jepang ini.

Amin Pribadi, SP, Petugas Penyuluh Lapang merasa senang dengan kehadiran ReSSI di tengah masyarakat petani di Desa Buantan Lestari. “Kehadiran ReCSI atau komunitas-komunitas lainnya yang bertujuan baik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian di Desa Buantan Lestari sangat kami nantikan, karena tenaga ahli sangat terbatas, sementara petani yang ada sangat banyak jumlahnya,” jelas Amin. Hal senada juga ditambahkan oleh Uncu dari Komunitas Riau Hijau (RH), yang ikut hadir dalam pertemuan komitmen ini. “Adanya kesamaan visi antara RH dan ReCSI membuat pekerjaan berat dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di Bungaraya secara umum dan khususnya di Buantan Lestari menjadi sedikit lebih ringan,” kata Uncu menambahkan.

Sebenarnya keinginan menghasilkan beras bebas residu telah lama ingin dilakukan oleh para petani di Desa Buantan Lestari, namun kendala pemasaran produk beras bebas residu membuat para petani tersebut mengurungkan niatnya. “Bayangkan saja mas, jika kami menggunakan obat (red: pestisida) secara berlebihan, maka kami bisa menghasilkan 7-8 ton gabah per hektar, tapi kalau sesuai standar atau organik, produksinya tidak sampai 4 ton,” jelas Aris Sugandi, salah satu petani di Desa Buantan Lestari. “Nah, kalau kami jual harganya sama dengan yang pakai obat, tentunya kami rugi mas, tapi kalau kami jual mahal, tidak ada yang beli,” tambah Aris.

“Sekarang bapak-bapak petani tidak perlu khawatir. Tugas bapak-bapak saat ini hanya menanam dan mengikuti prosedur pertanian yang baik dari kami dan Pak Amin. Urusan pemasaran produk beras Bapak, ReCSI dan RH siap membantu,” kata Indra mengakhiri pertemuan komitmen bersama petani tersebut.

Telah dimuat sebelumnya di GagasanRiau.com pada 28 Oktober 2019