Manfaat Pertanian Organik

Seiring dengan berjalannya waktu, dunia semakin menua. Beberapa tahun terakhir telah terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup di semua sektor, termasuk di dalamnya air dan tanah. Penurunan kualitas air dan tanah bisa kita lihat di keseharian kita bersama, dimana penggunaan deterjen, sabun, pestisida, pupuk, limbah rumah sakit, limbah pabrik, dan lain sebagaimnya telah mencemari wilayah perairan dan daratan.

Kondisi itu tentunya tidak boleh kita biarkan berlarut jika ingin melihat masa depan yang tidak kelam. Saya rasa ini adalah hal yang tidak dapat ditawar lagi. Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) harus mampu mewujudkannya. Harus ada upaya nyata dan serius untuk mengatasi berbagai masalah utama pemicu pencemar lingkungan hidup tersebut. Pertanian organik menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Beras organik untuk kesehatan kita dan lingkungan

Berdasarkan penelitian yang telah banyak dilakukan, pertanian organik dapat meningkatkan kualitas tanah. Sehingga tidak terjadi penumpukan senyawa-senyawa berbahaya yang ada di pupuk atau pestisida dalam waktu yang lama di tanah atau ke badan air. Selain itu pertumbuhan gulma lebih sedikit, sehingga berujung pada pengurangan biaya tenaga dan waktu yang dibutuhkan dalam penyiangan. Input energi berbasis bahan bakar fosil (FFEI) di pertanian organik hanya 18,3% (546,0 Mcal ha) jika dibanding dengan pertanian konvensional (2977,21 Mcal ha). Pertanian organik jelas lebih hemat energi. Studi kasus juga lainnya juga telah menunjukkan manfaat sosial-ekonomi, penggunaan energi dan lingkungan dari pertanian organik dibandingkan pertanian konvensional.

Selain itu yang paling penting adalah produk yang dihasilkan berupa beras atau sayur-sayuran dari pertanian organik akan aman untuk dikonsumsi. Tersebab kandungan dari residu pupuk ataupun pestisida di produk-produk pertanian yang dihasilkan tidak ditemukan alias 0%.

Namun, ada tantangan tersendiri yang dihadapi oleh petani dalam memproduksi beras organik ini, yang paling utama adalah terkait hasil produksi yang lebih rendah dibanding pertanian konvensional. Hal ini dikarenakan butuh waktu cukup lama untuk mengembalikan kualitas tanah yang sudah lama tercemar, selain itu memang tidak adanya penyemprotan pestisida membuat padi rentan terkena hama. Makanya jangan heran jika beras organik lebih mahal dipasaran ketimbang beras yang dihasilkan dari pertanian konvensional. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menutupi biaya produksi dari hasil yang tidak banyak.

Produksi pertanian organik yang tidak banyak juga menjadi salah satu faktor enggannya petani beralih ke pertanian organik. Padahal manfaatnya jelas sekali dirasa, tidak hanya untuk petani dan masyarakat yang mengonsumsi, tapi juga bagi lingkungan dan masa depan anak cucu kita. Tapi saya yakin ke depannya orang-orang akan sadar untuk memilih apa yang mereka makan. Tersebab kini sehat kian mahal harganya.

Referensi:
1. Journal of Sustainable Agriculture 24(2):93-115
2. https://lib.dr.iastate.edu/cgi/viewcontent.cgi?referer=https://www.google.com/&httpsredir=1&article=1051&context=extension_pubs