Sehatkah Beras di Rumah?

Seperti yang sudah kita ketahui, di pasaran terdapat dua jenis tekstur beras, yaitu beras pulen dan beras pera. Beras pulen identik dengan tekstur nasi yang lembut sehingga disukai banyak orang, termasuk kalangan lanjut usia (lansia). Maka tak heran harga di pasaran beras pulen dengan merek dagang terkenal cukup mahal. Tapi jangan salah, beras pera juga kadang relatif lebih mahal dibanding beras pulen, terutama di wilayah yang memang menjadi mayoritas penikmat beras pera, seperti Sumatera Barat dan Riau. Bisa dikatakan prinsip ekonomi lah. Jadi tidak bisa serta merta langsung menyimpulkan harga beras yang lebih murah tidak baik dari segi kesehatan.

Ilustrasi gambar beras (sumber: Google)

Beras Basila dengan tas cantik TaKaRa! dan karung plastik

Nah, jika ditinjau dari sisi kesehatan, beras pera memiliki indeks glikemik (GI) lebih rendah dibanding beras pulen karena kalau dimasak tidak sampai hancur atau lembut, sehingga butuh proses di saluran cerna yang lebih lama. Jadi gula darah yang dihasilkan oleh pencernaan beras pera di tubuh tidak langsung tiba-tiba melonjak dan kenyangnya pun lebih lama. Sedangkan bubur memiliki indeks glikemik yang sangat tinggi karena memiliki tekstur yang sangat halus, terlebih bila bubur berasal dari beras pulen. Jadi makin halus tekstur suatu makanan makin tinggi indeks glikemiknya.

Indeks glikemik (GI) adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Makin tinggi GI, makin cepat karbohidrat diolah menjadi gula dan produksi insulin pun semakin meningkat. Makanan dengan GI tinggi mungkin dapat membuat orang merasa berenergi dengan segera, namun karena gula yang tiba-tiba naik tadi akan turun secara mendadak pula (fluktuasinya tinggi), akhirnya juga membuat orang cepat lapar. Akibatnya, orang akan menjadi lebih banyak makan. Makanan dengan GI tinggi juga berpotensi membuat orang cepat gemuk dan memicu obesitas (kegemukan), karena kelebihan energi yang tidak terpakai akan disimpan dalam bentuk lemak.

GI tinggi juga akan membuat pankreas bekerja lebih keras dalam menghasilkan insulin yang berguna mengimbangi gula darah yang naik secara tiba-tiba. Bila orang terus-menerus makan makanan dengan indeks glikemik tinggi, dampaknya adalah kerusakan pankreas yang bisa menyebabkan diabetes tipe 2 (karena gaya hidup).

Jadi sampai di sini sudah tahu kan beras mana yang lebih sehat? Lalu bagaimana dengan beras kita di rumah?

Namun, tenang saja, bagi kamu penyuka beras pulen mungkin bisa mengontrol jumlah air ketika memasak, sehingga tidak terlalu lembut. Atau kalau kamu bukan penderita diabetes atau berisiko terkena diabetes, risiko dari konsumsi beras pulen juga tidak terlalu signifikan. Intinya makan sebelum kenyang dan makan sebelum lapar :).

Referensi:
https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1849957/beras-pera-lebih-sehat-dari-beras-pulen-meski-tidak-enak